"Setiap kepingan sore yang tenggelam. Itu tentang kamu yang menghilang"
#FollowMe, #SelapanDinaNulisFun
- #10TahunAirAsia (1)
- #7HarimenulisSurat (3)
- #7HariNgimcil (7)
- #Asyikmenulis (1)
- #Fiksi (9)
- #FollowMe (2)
- #MimpiBerpetualangkeHimalaya (1)
- #PakPolisiBLOG (3)
- #SELAPANDINANULISFUN (38)
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Juli 2014
Jumat, 04 Juli 2014
Setengah Jiwa
Setengah Jiwa
INI cerita seorang temanku, tentang rasa cintanya kepada
temanku yang lain. Kawanku ini begitu tampan rupawan. Sayangnya tak punya
keberanian untuk menggali perasaan. Dia bercerita dan bertanya kepadaku. Teman
dekat dari gadis yang disukainya itu.
Apa yang kurang darinya coba. Bagi perempuan pemuja rupa,
dia itu kelasnya seperti Arjuna. Bagi pengagum otak encer, sosoknya adalah
siswa paling pintar. Bagi yang suka harta, dia adalah anak yang terlahir,
ceprooot, sudah kaya. Kurang apa?
Yang tergila-gila padanya bukannya satu atau dua. Lebih dari
itu. Selusin dara paling ayu di sekolahku adalah fans beratnya. Ibaratnya ia arahkan
telunjuk jarinya pada salah satu diantaranya. Maka sebelas gadis lainnya akan
terhempas ke tanah karena patah hatinya.
Tapi ini tidak, remaja tampan ini hanya menunduk. Bukan 12
gadis-gadis cantik itu yang membuatnya takluk. Tapi seorang gadis
biasa. Dia menyukai dia yang juga aku suka.
Sudah kukatakan, gadis itu biasa saja. Dia menggelang. Menurutmu gadis itu luar biasa, sederhana, apa adanya. Gadis itu menganggapnya pria biasa yang manja. Gadis itu nenjadikannya laki-laki biasa yang malu dipuja. Itu membuatnya tergila-gila!
Sudah kukatakan, gadis itu biasa saja. Dia menggelang. Menurutmu gadis itu luar biasa, sederhana, apa adanya. Gadis itu menganggapnya pria biasa yang manja. Gadis itu nenjadikannya laki-laki biasa yang malu dipuja. Itu membuatnya tergila-gila!
Kau bertanya,
bagaimana mendekatinya?
Aku berkata, ketampananmu, kepandaianmu dan kekayaanmu
seharusnya menjadi kepercayaan dirimu.
Kamu menjawab, aku malu. Gadis itu
menelanjangi kesombonganku dengan kesederhanaannya.
Aku tahu cara mendekatinya. Tapi aku tak mau berbagi
denganmu.
Aku yang laki-laki biasa. Bermodal cuma rasa suka dan wajah
apa adanya. Tak mungkin memberikan satu-satunya harta yang membuat gadis itu
nyaman saat kita jalan berdua.
Kawan, kamu harus tahu, aku hanya bisa membuatnya tertawa.
Itu cukup untuk memiliki setengah jiwanya.
Selasa, 01 Juli 2014
Sama Seperti Kalian. Bosan.
Kadang aku juga suntuk. Sama
seperti kalian. Bosan.
Merutuk sesekali melepas beban
mendapati kelegaan.
Tapi hanya semu serasa
pelampiasan dari rasa jemu.
Seperti bisul yang pecah karena
terantuk.
Merasa waktu ini begitu
terkutuk.
Menyalahkan siapa yang penting
ada.
Misuh. Tetap saja berpeluh.
Air doa coba membasuh.
Sembuh.
Senin, 30 Juni 2014
Sebuah Kotak untuk Sahabat
SUDAH satu jam ini aku menunggumu. Aku tahu yang kamu
lakukan di dalam sana. Mandi dan berdandan sesempurna mungkin. Bukan untukku.
“Lho, belum berangkat Nak Ari?” kepala ibumu menyembul dari
tirai yang memisahkah ruang tamu dan ruang depan, menyapaku heran. Satu jam
yang lalu aku bertamu dan mengajak Rani untuk rapat. Tapi yang ada aku masih
terpekur membaca koran. Itu satu-satunya aktivitas yang menyelamatkanku dari
kebosanan.
“Kebiasaan sik Rani, lah wong mung rapat wae kok le adus
karo dandan suwe,” gerutu ibumu. Tak lama dirimu keluar, meruapkan bau wangi
sambil tersenyum manis. Kau kedipkan sebelah matamu, kode untuk sebuah lakon
sandiwara.
“Bu pamit dulu, mau rapat di kampus,” bilangku di depan
tirai antara ruang depan dan ruang tengah. Kulihat matamu melotot. Sebuah
isyarat. “Sampai malam bu,” lanjutku.
“Iya hati-hati nak Ari, “ tanpa membuka tirai, suara ibumu
sudah terdengar jelas. Kulihat dirimu tersenyum.
Rapat berlangsung singkat. Tapi bagiku sore ini akan
berjalan lambat.
“Mau makanan apa Ri?”
“Dia mau apa saja, asal makanan,” kalimat itu diantarakan
tawa laki-laki yang memelukmu. Aku tersenyum, pura-pura asyik dengan novel
pinjaman darimu.
Dibalik buku itu sudah kuselipkan belati ................(bersambung)
Minggu, 29 Juni 2014
Berganti Baju
“Untuk apa?”
“Hush, dasar setan pemula. Ya untuk tobatlah, biar diampuni dosa-dosa kita setahun ini,”
“Berganti baju. Menjadi para pentobat. Berbaju gamis dengan mulut yang manis”.
Berhentilah para setan membaca mantera sesat. Kini mereka membaca doa. Semoga dikabulkan, cuma sebulan.
Setelah itu mereka akan memakai lagi baju kebesaran untuk hidup kotor, menjadi koruptor.
Jumat, 27 Juni 2014
Janji Kita Angin yang Membeku, Rapuh
SUDAHLAH. Lupakan janji yang terucapkan pada saat kita berkumpul
dalam percakapan di atas batu. Bukankah janji itu adalah sebuah penantian yang
dibatasi oleh waktu. Kita tidak akan mampu. Sudahlah, toh saksi kita adalah
batu yang membisu dan ucapan kita adalah angin yang membeku, rapuh.
Salahkan kita saja kenapa kemudian waktu terlewat seperti
daun jatuh. Bukankan kita sudah menempuh janji . Masing-masing punya alasan
untuk tidak menepati satu titik perjumpaan. Begitu juga aku dan kamu.
Waktumu terlalu cepat, itu katamu.
Kamu yang terlalu lambat, kataku.
Ada banyak halangan di tengah jalan, ucapmu.
Aku harus menepi untuk menghimpun energi, sergahku.
Sudahlah, kita selalu punya alasan untuk diperdebatkan.Sama
banyaknya dengan ribuan pujian yang saling kita lontarkan. Bukankan janji
adalah sebuah makna kepercayaan? Atau
sekadar pencitraan tentang siapa kita, tentang kenapa kita saling mencinta.
Janji yang tak terselesaikan, mari kita rampungkan dengan
kata yang tak perlu terucapkan. Biarkan batu mencatat, bahwa janji kita
akhirnya membeku dan menguap karena kita percaya, waktu akhirnya akan berlalu.
Langganan:
Postingan (Atom)