Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

Kepingan Sore

"Setiap kepingan sore yang tenggelam. Itu tentang kamu yang menghilang"



Jumat, 04 Juli 2014

Setengah Jiwa



Setengah Jiwa

INI cerita seorang temanku, tentang rasa cintanya kepada temanku yang lain. Kawanku ini begitu tampan rupawan. Sayangnya tak punya keberanian untuk menggali perasaan. Dia bercerita dan bertanya kepadaku. Teman dekat dari gadis yang disukainya itu.

Apa yang kurang darinya coba. Bagi perempuan pemuja rupa, dia itu kelasnya seperti Arjuna. Bagi pengagum otak encer, sosoknya adalah siswa paling pintar. Bagi yang suka harta, dia adalah anak yang terlahir, ceprooot, sudah kaya. Kurang apa?

Yang tergila-gila padanya bukannya satu atau dua. Lebih dari itu. Selusin dara paling ayu di sekolahku adalah fans beratnya. Ibaratnya ia arahkan telunjuk jarinya pada salah satu diantaranya. Maka sebelas gadis lainnya akan terhempas ke tanah karena patah hatinya.

Tapi ini tidak, remaja tampan ini hanya menunduk. Bukan 12 gadis-gadis cantik itu yang membuatnya takluk. Tapi seorang gadis biasa. Dia menyukai dia yang juga aku suka.

Sudah kukatakan, gadis itu biasa saja. Dia menggelang. Menurutmu gadis itu luar biasa, sederhana, apa adanya. Gadis itu menganggapnya pria biasa yang manja. Gadis itu nenjadikannya laki-laki biasa yang malu dipuja. Itu membuatnya tergila-gila!

Kau bertanya, bagaimana mendekatinya?

Aku berkata, ketampananmu, kepandaianmu dan kekayaanmu seharusnya menjadi kepercayaan dirimu. 
Kamu menjawab, aku malu. Gadis itu menelanjangi kesombonganku dengan kesederhanaannya.

Aku tahu cara mendekatinya. Tapi aku tak mau berbagi denganmu.

Aku yang laki-laki biasa. Bermodal cuma rasa suka dan wajah apa adanya. Tak mungkin memberikan satu-satunya harta yang membuat gadis itu nyaman saat kita jalan berdua.

Kawan, kamu harus tahu, aku hanya bisa membuatnya tertawa. Itu cukup untuk memiliki setengah jiwanya.

Selasa, 01 Juli 2014

Sama Seperti Kalian. Bosan.



Kadang aku juga suntuk. Sama seperti kalian. Bosan.

Merutuk sesekali melepas beban mendapati kelegaan.

Tapi hanya semu serasa pelampiasan dari rasa jemu.



Seperti bisul yang pecah karena terantuk.

Merasa waktu ini begitu terkutuk.

Menyalahkan siapa yang penting ada.

Misuh. Tetap saja berpeluh.

Air doa coba membasuh.

Sembuh.  

Senin, 30 Juni 2014

Sebuah Kotak untuk Sahabat



                  SUDAH satu jam ini aku menunggumu. Aku tahu yang kamu lakukan di dalam sana. Mandi dan berdandan sesempurna mungkin. Bukan untukku.
                “Lho, belum berangkat Nak Ari?” kepala ibumu menyembul dari tirai yang memisahkah ruang tamu dan ruang depan, menyapaku heran. Satu jam yang lalu aku bertamu dan mengajak Rani untuk rapat. Tapi yang ada aku masih terpekur membaca koran. Itu satu-satunya aktivitas yang menyelamatkanku dari kebosanan.
                “Kebiasaan sik Rani, lah wong mung rapat wae kok le adus karo dandan suwe,” gerutu ibumu. Tak lama dirimu keluar, meruapkan bau wangi sambil tersenyum manis. Kau kedipkan sebelah matamu, kode untuk sebuah lakon sandiwara.
              “Bu pamit dulu, mau rapat di kampus,” bilangku di depan tirai antara ruang depan dan ruang tengah. Kulihat matamu melotot. Sebuah isyarat. “Sampai malam bu,” lanjutku.
             “Iya hati-hati nak Ari, “ tanpa membuka tirai, suara ibumu sudah terdengar jelas. Kulihat dirimu tersenyum.
Rapat berlangsung singkat. Tapi bagiku sore ini akan berjalan lambat.
            “Mau makanan apa Ri?”
            “Dia mau apa saja, asal makanan,” kalimat itu diantarakan tawa laki-laki yang memelukmu. Aku tersenyum, pura-pura asyik dengan novel pinjaman darimu.
Dibalik buku itu sudah kuselipkan belati ................(bersambung)

Minggu, 29 Juni 2014

Berganti Baju



“Lusa sudah puasa, sudahkah kalian membeli baju takwa?”
“Untuk apa?”
“Hush, dasar setan pemula. Ya untuk tobatlah, biar diampuni dosa-dosa kita setahun ini,”
“Berganti baju. Menjadi para pentobat. Berbaju gamis dengan mulut yang manis”. 


Berhentilah para setan membaca mantera sesat. Kini mereka membaca doa. Semoga dikabulkan, cuma sebulan.
Setelah itu mereka akan memakai lagi baju kebesaran untuk hidup kotor, menjadi koruptor.

Jumat, 27 Juni 2014

Janji Kita Angin yang Membeku, Rapuh



SUDAHLAH. Lupakan janji yang terucapkan pada saat kita berkumpul dalam percakapan di atas batu. Bukankah janji itu adalah sebuah penantian yang dibatasi oleh waktu. Kita tidak akan mampu. Sudahlah, toh saksi kita adalah batu yang membisu dan ucapan kita adalah angin yang membeku, rapuh.

Salahkan kita saja kenapa kemudian waktu terlewat seperti daun jatuh. Bukankan kita sudah menempuh janji . Masing-masing punya alasan untuk tidak menepati satu titik perjumpaan. Begitu juga aku dan kamu.

Waktumu terlalu cepat, itu katamu.

Kamu yang terlalu lambat, kataku.   

Ada banyak halangan di tengah jalan, ucapmu.

Aku harus menepi untuk menghimpun energi, sergahku.

Sudahlah, kita selalu punya alasan untuk diperdebatkan.Sama banyaknya dengan ribuan pujian yang saling kita lontarkan. Bukankan janji adalah sebuah makna  kepercayaan? Atau sekadar pencitraan tentang siapa kita, tentang kenapa kita saling mencinta.

Janji yang tak terselesaikan, mari kita rampungkan dengan kata yang tak perlu terucapkan. Biarkan batu mencatat, bahwa janji kita akhirnya membeku dan menguap karena kita percaya, waktu akhirnya akan berlalu.