Minggu, 22 Juni 2014

Lampu di Matamu



Lampu di Matamu
"JANGAN pulang dulu, bawa aku melewati tempat-tempat yang merengkuh cahaya , karena disitu hatiku bisa mengadu. Aku selalu suka melihat lampu." 
Itu yang kamu katakan padaku malam itu. 

Sejujurnya aku bingung dengan permintaanmu. Sejujurnya juga aku suka dengan maumu itu. Artinya malam ini adalah malamku dan malammu. Berdua kita menikmati waktu.

Ah, maafkan aku. Begitu sedikit referensiku tentang tempat  yang berlampu. Aku takut mengecewakanmu. Kamu membacaku. Memberikan senyuman harapan sekaligus mengatakannya. "Kamu tahu."

Membawamu melihat lampu di atas jembatan layang itu. Sekejap memang, karena kau tidak mengijinkanku berhenti . Itu seperti sebuah bisikan, bahwa tempat itu hanya memang layak dinikmati sambil lalu.

Malioboro selalu menyajikan pendar lampu dan keramaian manusia menyantap waktu di jam-jam ini. Biarlah mereka bercakap dalam klakson dan lisan yang tak terselesaikan. Sementara aku dan kamu, merenung diantara warna-warni lampu reklame yang berjumpa dengan pijar dari lesehan .

Ah, aku ingat Nol Kilometer adalah tempat yang wangun menikmati cahaya lampu. Bukan lampu itu sebenarnya yang menarik hati setiap orang berkumpul disitu, tapi landskap dua bangunan Gedung Bank BNI dan Kantor Pos Besar. Di situ lampu seperti angkuh karena membuat dua ikon itu menjadi kokoh melewati waktu.

Aku ingin membawamu ke tempat sepi dimana hanya suara motor yang kita naiki berdua dan pendar lampu yang menyirami tubuh kita di bawahnya. Entah, apakah sepanjang JalanBhayangkara hingga Pasar Kembang itu memuaskan dahagamu terhadap siraman cahaya lampu.

Aku berhenti melaju di Jembatan Gondolayu. Menyaksikan deret lampu di kampung pinggir Kali Code. Ah, ternyata dirimu belum pernah menikmati lampu di tempat itu. Aku melihat matamu. Di dalamnya terlihat pendar magis yang lebih menarik dari lampu-lampu di kotaku.  

Sabtu, 21 Juni 2014

Takut Patah Hati



Belajar dari tahun-tahun sebelumnya saat Piala Dunia, saya mencoba tidak mengikatkan hati terlalu erat pada sebuah tim negara manapun. Memang tahun ini jagoan saya tetap Jerman atau Belanda. Iya, saya pilih dua negara itu, setidaknya kalau tidak lolos salah satu tidak lolos ke babak selanjutnya saya masih punya jagoan satunya. Kalau kalah dua-duanya, setidaknya ikatan batinnya ini tidaklah begitu rapuh.

Saya memilih Jerman karena mereka merupakan negara dengan prestasi yang relatif stabil. Gaya bermainnya selalu kokoh seperti julukannya, Panzer. Menggilas siapun yang menghadang. Sedang Belanda, ini adalah negara yang disebut-sebut raja tanpa mahkota.  Tiga kali sampai puncak final piala dunia, tiga kali pula mereka keok. Tahun 2010, mereka masuk babak final puncak dengan menghadapi Spanyol. Tapi apa lacur, mereka justru kebobolan di menit akhir oleh Andreas Iniesta.

Tahun ini keduanya mengawali Piala Dunia dengan ganas, Belanda menghajar Spanyol, 4-0. Balas dendam indah untuk partai final tahun 2010. Apalagi Spanyol akhirnya harus menjadi salah satu tim yang angkat koper lebih dulu dari perhelatan Piala Dunia 2014 di Brazil.

Kembali pada soal ikatan hati, saya pernah mengalami betapa kecewanya ketika negara jagoan saya, Brazil kalah dari Perancis di Final Piala Dunia 1998. Kecewa sampai dalam hati. Sampai tidak bisa tidur, males makan, males segala-galanya, tidak percaya Ronaldo dan kawan-kawannya harus tersingkir.

Tahun ini, meski menjagokan Belanda dan Jerman, saya tidak mau dipermainkan oleh perasaan. Saya mendukung dengan logis saja. Menikmati setiap pertandingan tanpa terbawa terlalu dalam perasaan menjadi pilihan. Setidaknya kalau dua tim itu rontok sebelum sampai partai puncak, saya menikmati permainan tim manapun yang memang layak untuk tampil di final. Karena saya memang menyukai permainan bola, bukan permainan perasaan.

Jumat, 20 Juni 2014

Begini Caranya



Anda ingin langsing? Berat badan proporsional ? Tenang, saya sedang tidak menawarkan obat pelangsing. Saya ingin bercerita bagaimana saya menterjemahkan gambar di bawah ini dalam gerakan nyata.



Gambar di atas disebut 12 gerakan O7W atau 7 minutes work out yang disebut-sebut dalam  Obsessive Corbuzier's Diet (OCD). Itu loh diet yang diperkenalkan oleh Deddy Corbuzier. Gerakan tersebut seperti dikatakan Deddy bukan temuannya, namun merupakan gerakan yang memang sudah lama dikenal sebagai teknik untuk membakar lemak dengan cara efektif dan mudah disebut High intensive training.
 
Tapi percayalah,meski gerakannya terbilang mudah tidak pada prakteknya. Sejujurnya sampai tulisan ini dibuat saya belum sempurna melakukannya. Misalnya saja, push up selama 30 detik. Lah ini baru dapet 13 detik saja, sudah tidak kuat angkat badan. Begitu juga dengan beberapa gerakan lain seperti  Tricep dip on chair dimana saya menyadari bahwa berat beban pantat saya sudah kelewatan atau wall sit, dimana otot paha bergetar layaknya sebuah senapan otomatis yang sedang memuntahkan pelurunya. 

Tapi sulit bukannya tidak bisa. Saya percaya melalui sebuah proses saya bisa melakukan 12 gerakan tersebut dalam 7 menit. Jadi target saya saat ini tidak berpikir berat badan akan turun berapa, tapi berganti bagaimana menaklukan 7 gerakan ini dengan cara yang benar. Artinya 12 gerakan ini bisa saya lakukan sempurna  sesuai dengan aturan yaitu setiap gerakan dilakukan dalam 30 detik dengan waktu istirahat antar gerakan 10 detik.

Di e-book OCDnya Om Deddy yang bisa didownload gratis memang petunjuk 07W hanya dalam bentuk gambar seperti di atas. Maka hari ini saya browsing untuk mencari gambaran utuhnya bagaimana melakukan O7W yang benar.  Ini yang saya dapatkan.

Masih bingung lagi, nih
Silakan mencoba! Ditanggung gempor.

 

Kamis, 19 Juni 2014

Keracunan



Peringatan saya yang bukan dokter : Jangan dicoba!

“Ngawur mas, bahaya, pembuluh darahmu bisa pecah, ini ada yang pecah.”
“Berbaring, celananya di turunkan.”
“Dok bisa tidak saya jangan disuntik. Saya diberi obat saja, yang banyak juga tidak apa-apa.”

Percakapan tersebut terjadi sekian tahun lalu saya saya masih bertugas di Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Ini cerita tentang modern dan tradisional.

Perpaduan modern dan tradisional kadangkala akan menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Namun tidak untuk obat kimia dan dan jamu. Obat kimia adalah produk modern sedang jamu adalah produk tradisional. Jangan dipadukan. Nanti keracunan.
Pagi itu saya bangun dengan hidung mampet, flu berat. Biasanya saya tidak akan meminum obat, karena saya percaya flu sebenarnya bisa sembuh sendiri asal tubuh kita fit. Flu, biasanya datang setiap 6 bulan sekali.

Saya memutuskan untuk membeli obat flu yang dijual bebas di warung-warung. Harapannya flu itu segera menghilang dan saya bisa beraktivitas lagi. Pagi –pagi saya keluar dari kos-kosan di pinggiran Kota Sragen, Jawa Tengah untuk mencari obat sekaligus mencari sarapan.

Sampai di kos, saya melihat obat tradisional yang dikemas sachet. Obat untuk masuk angin yang disitu juga tertulis bisa mengurangi flu. Saya khilaf. Saya tenggak obat tersebut.

Tidak lama kemudian saya merasakan hidung saya terasa hangat dan seperti ada cairan yang meleleh keluar. Aku kaget ternyata yang keluar adalah cairah berwarna merah, darahhhh! Mimisan!

Tetangga kos punya daun sirih. Setelah melinting dan memasukan ke dua lubang hidung saya bapak dan ibu kos serta anak-anakanya tidak ada di rumah. Rencananya mau naik motor sendiri namun tidak memungkinkan karena saya harus ndangak atau mendongak agar darah tidak mengucur terus. Akhir berjalan ke pinggir jalan besar menghentikan becak yang lewat.  

Sampai di klinik, dengan kondisi hidung yang kocor-kocor keluar darah, saya berjalan sambil ndangak agar tidak banyak darah yang keluar.
“Loh kenapa mas”
“Tadi minum obat dok, terus habis itu minum jamu”
“Ngawur mas, bahaya, pembuluh darahmu bisa pecah, ini ada yang pecah.”
“Berbaring, celananya di turunkan.”
“Dok bisa tidak saya jangan disuntik. Saya diberi obat saja, yang banyak juga tidak apa-apa.”

Deg. Saya melirik dokter tersebut. Ia mengambil jarum suntik dan menyedot cairan dari sebuah botol kecil.
 “Mas kamu ini sudah keracunan masih ngenyang. Cara satu-satunya disuntik biar cepat berhenti darahnya,”

Saya takut jarum suntik. Sumpah, saya takut. Ketika SD seorang dokter pernah menyuntik dan jarumnya sampai melengkung. Sebabnya ketika jarum itu masuk di pantat, saya mengejan. Akibatnya jarum suntik itu melengkung sehingga ketika dicabut justru muncrat keluar cairannya.

Saya memejamkan mata. Membayangkan hal lain untuk mengalihkan pikiran bahwa saya akan disuntik.
“Udah mas, celananya dinaikan lagi,”
“Udah dok?”
“Sudah”
Weeeh...ternyata tidak terasa pas disuntik.
“Ini obatnya, jangan diulangi lagi mas. Untung langsung dibawa kesini. Bahaya, kalau ndak kuat pembuluh darahmu bisa pecah semua.”

Tuh dengerin, jangan mencampur adukan produk modern dan tradisional dengan serampangan. Mending pilih salah satu atau tunggu sampai beberapa jam, nanti keracunan.